Pasuruan meri.co.id – Pemerintah Kabupaten Pasuruan terus mengawal pelaksanaan program perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) melalui Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) dari Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman.

Saat ini, program tersebut mulai memasuki tahap distribusi atau dropping material bangunan kepada sejumlah penerima manfaat di beberapa desa di Kabupaten Pasuruan. Program ini ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah agar dapat memperbaiki rumahnya menjadi lebih layak huni.

Bantuan diberikan dalam bentuk material bangunan yang disalurkan melalui toko bangunan yang telah ditunjuk sebagai mitra pemerintah.

Dari total 200 unit rumah yang telah dinyatakan lolos verifikasi oleh Kementerian Perumahan, baru 72 kepala keluarga yang menerima Surat Keputusan (SK) penerima bantuan. Sementara itu, sebanyak 138 calon penerima lainnya masih menjalani proses administrasi dan verifikasi lanjutan sebelum bantuan direalisasikan.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Pasuruan, Eko Bagus , menjelaskan bahwa proses distribusi material sudah mulai berjalan di sejumlah wilayah.

“Untuk Desa Ampelsari, Kecamatan Pasrepan, saat ini sudah memasuki tahap dropping material dari toko bangunan. Sedangkan proses pembangunan fisik direncanakan dimulai setelah Hari Raya Idul Adha,” ujarnya.

Ia menambahkan, untuk wilayah lain seperti Desa Wonosunyo dan Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, program masih berada pada tahap pemilihan toko bangunan sebagai penyedia material bagi penerima bantuan.

Dalam program BSPS ini, setiap rumah mendapatkan bantuan sebesar Rp 20 juta. Rinciannya, Rp17,5 juta dialokasikan untuk pembelian material bangunan dan Rp2,5 juta untuk upah tenaga kerja.

Meski demikian, program ini tetap mengedepankan konsep swadaya masyarakat. Para penerima bantuan diharapkan turut berpartisipasi dengan dukungan keluarga maupun kerabat agar proses pembangunan rumah dapat berjalan lebih optimal.

Selain itu, pelaksanaan pembangunan rumah dalam program BSPS tidak melibatkan kontraktor. Proses pengerjaan dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan keluarga penerima bantuan, warga sekitar, serta lingkungan desa.

“Melalui pola gotong royong ini diharapkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat dapat kembali tumbuh,” pungkasnya. (*/red)