JEMBER, MeRI.CO.ID – ADA yang baru dalam perayaan acara Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) yang dihelat tahun ini. Sepuluh talenta Jember Fashion Carnaval (JFC) tampil dalam acara fesyen di tengah kebun tembakau, di Desa Klompangan, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember, Sabtu (22/7/2023) petang.
Mereka menjadi bagian dari rangkaian acara Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) yang digelar pada 1 -31 Juli 2023. JFC sendiri baru akan diselenggarakan pada 4-6 Agustus 2023 dengan tema Time Lapse.
Festival JKCI sudah memasuki tahun kelima untuk mempromosikan Jember sebagai kota cerutu di Indonesia. Selain dihadiri Bupati Hendy Siswanto, pertunjukan fesyen di tengah kebun itu dihadiri Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Jember dan beberapa rekanan bisnis tembakau dari Eropa.
Febrian Kahar, Komisaris Utama PT BIN Cigar, perusahaan eksportir cerutu, mengatakan, pertunjukan fesyen itu dilakukan di tengah tiga hektare lahan percobaan (demoplot) tembakau Besuki Na-oogst untuk petani. “Biar tamu-tamu kami melihat langsung kenapa cerutu Jember enak? Karena tanamannya bagus. Jadi mereka tidak bisa underestimate terhadap tembakau Jember,” katanya.
“Pentas ini mengirimkan pesan banyak ke dunia luar, bahwa tembakau Jember mulai zaman dulu memang untuk cerutu dan tembakau Jember berkelas dunia,” kata Febrian yang menggagas Festival JKCI.
Pertunjukan itu juga akan menarik wisatawan. “Di kepala mereka kalau tidak melihat JFC, ya Jember Kota Cerutu, atau ikon lainnya. Jadi mereka harus mengingat Jember dalam 365 hari. Mereka datang memang satu kali, tapi efeknya harus ke kanan-kiri untuk pelaku UMKM dan destinasi wisata lainnya, termasuk rumah makan dan hotel juga akan penuh,” kata Febrian.
Selain menyajikan pertunjukan fesyen di tengah kebun, Festival JKCI juga menyediakan lokasi-lokasi untuk menikmati cerutu sembari minum kelapa. “Jadi siapapun yang mau menikmati cigar sembari ngopi atau minum degan, tinggal kontak kami. Kami ada lima stage yang disiapkan dengan usia 50-60 hari. Lebih dari itu tembakau sudah tidak enak dilihat karena itu masa panen,” kata Febrian.
Para wisatawan juga dipersilakan untuk menyaksikan proses budidaya tembakau hingga menjadi cerutu. “Mereka akan mendapat edukasi. Sementara ini banyak penikmat cigar (cerutu) yang hanya tahu cigar, tapi tidak tahu tembakau. Banyak orang yang tidak tahu tembakau, tidak menikmati cerutu, tapi melarang merokok. Di sini akan dilihat bahwa tanaman itu indah. Cigar adalah healthy smoking,” kata Febrian. (*/red)
