SURABAYA, MeRI.CO.ID – DINAR Wahyu Saptian Dyfriq alias Wahyu Kenzo mendadak viral, pasalnya 25 ribu orang berhasil ditipu mentah-mentah dengan modus menjual produk susu secara robot trading.

Uang yang berhasil dikumpulkan pun tidak sedikit, bahkan bisa dibilang bahwa Wahyu Kenzo ini adalah salahsatu penipu kelas ulung yang dengan mudah bisa meraup rupiah sebesar 9 triliun dari para korbannya.

Pakar Investasi Universitas Surabaya (Ubaya), Dr Putu Anom Mahadwartha menyebut robot trading merupakan sesuatu hal yang baik. Sebab, para investor yang tidak memiliki banyak waktu bisa secara otomatis melakukan transaksi.

Namun, tak sedikit oknum-oknum yang justru memanfaatkan kondisi tersebut untuk kepentingan pribadi. Di mana pemilik robot trading bisa mengelabuhi para investor dengan iming-iming bisa kaya secara instan.

Sehingga, investor terbuai untuk menanamkan investasinya, termasuk dalam kasus robot trading yang menjerat Wahyu Kenzo.

“Robot trading itu sebenarnya mekanisme auto order. Di situ seharusnya investor bisa menetapkan berapa harga beli dan kapan membeli. Ada semacam sistem yang bisa dipakai. Itu sebenarnya hal yang bagus,” ujar Putu, Jumat (10/3/2023).

“Nah, untuk robot trading yang berkaitan dengan kasus ini, memang lebih banyak karena investor terbuai melepaskan hak untuk melakukan transaksi secara langsung menggunakan robot,” imbuhnya.

Dekan Fakultas Bisnis dan Ekonomika Ubaya ini menambahkan, sebenarnya robot trading itu digerakkan oleh oknum-oknum yang berada di perusahaan. Sehingga, mereka bisa bebas menentukan siapa saja yang menang hari ini, besok dan seterusnya.

“Seolah-olah mereka bisa menciptakan market sendiri, karena sanggup membuai investor. Seolah-olah investor itu dengan tiduran atau rebahan saja, sudah bisa dapat duit,” bebernya. (*/red)