JOMBANG, MeRI.CO.ID – KURANG lebih sebanyak 1.200 kepala warga di Desa Asemgede, Kecamatan Ngusikan, Jombang terisolir akibat putusnya jembatan alternatif penghubung Kabupaten Jombang – Lamongan usai diterjang banjir, Sabtu malam (18/2/2023) lalu.

Jembatan Asengede ini mempunyai lebar 6 meter dengan panjang 8 meter ini nampak hancur dan sejumlah puing-puing terbawa arus. Bahkan, jembatan yang diperkirakan dibangun puluhan tahun lalu itu, kini tak bisa dilalui sama sekali.

Camat Ngusikan mengatakan, putusnya jembatan tersebut membuat aktivitas warga Desa Asemgede lumpuh total. Warga di satu desa itu tidak bisa keluar ke Kecamatan Ngusikan maupun ke Kabupaten Jombang.

“Mereka kini terisolasi karena satu satunya jalan tidak bisa dilalui, ” ujarnya.

Sementara saat hendak ke Jombang, mereka harus memutar kawasan Kabupaten Lamongan terlebih dahulu yang jaraknya cukup jauh. Sementara warga Desa Ngusikan yang hendak ke Lamongan juga tidak bisa karena akses terputus.

“Untuk penanganan darurat, warga kini bergotong royong membangun jembatan darurat. Jika tidak 1200 kepala keluarga tidak bisa kemana mana dan mereka terancam terisolasi, ” ujarnya.

Menurut penjelasan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Bayu Pancoroadi, jembatan Asemgede yang dimaksud adalah bangunan duiker atau gorong-gorong.

Ia menyebut duiker itu adalah bangunan yang dipakai untuk membawa aliran air melewati bawah jalan air lainnya, di bawah jalan. Gorong-gorong juga digunakan sebagai jembatan ukuran kecil.

“Duiker ini sama dengan gorong-gorong,” ungkap Bayu, saat ditemui di kantor PUPR, Senin (20/2/2023).

Lebih lanjut Bayu menjelaskan pada tahun 2021, pihaknya tengah melakukan perbaikan duiker tersebut. Perbaikan menyasar sayap-sayap duiker, baik dari hulu hingga ke hilir.

“Kita sudah melakukan pemeliharaan di sana pada tahun 2021 akhir tahun. Sayap-sayap duiker itu, baik dari hulu hingga hilir, plus tengah. Dan TPJ (tembok penahan jalan) nya,” kata Bayu.

Untuk kejadian kemarin, ia mengaku disebabkan curah hujan tinggi, dan saluran buang air tidak bisa berjalan maksimal. Sehingga air menggerus bagian samping duiker.

“Air melimpah ke sawah, menabrak duikernya itu. Menggerus Duiker, bagian kanan kirinya. Air masuk melalui bawah karena besarnya air. Sehingga Duiker itu hancur,” paparnya.

Ia membenarkan bahwa duiker itu, merupakan akses jalan warga Asemgede satu-satunya. “Ya akses jalannya ya itu saja. Makanya mau gak mau harus dilakukan perbaikan. Makanya PU kemarin sama Desa buat jembatan darurat,” ujarnya.

Selain itu, kendala yang paling utama penyebab terjadinya peristiwa itu, adalah saluran air yang tidak berfungsi secara maksimal. Dikarenakan saluran buang air di duiker itu, berubah fungsi menjadi lahan persawahan yang dimanfaatkan warga setempat.

“Sebenarnya air itu masuknya lewat jembatan itu. Karena di bawah jembatan itu salurannya dangkal. Akhirnya air itu malah megalir ke tempat yang lebih rendah, dan masuk ke duiker yang jebol itu,” bebernya.

Untuk itu, sambung Bayu, langkah yang paling cepat harus dilakukan adalah melakukan normalisasi saluran buang. “Jadi untuk drainase, kita akan normalisasi biar air mengalir sesuai dengan awalnya yang di jembatan itu,” terangnya. (*/red)