Pasuruan, Meri.co.id – Pertanian padi di Kabupaten Pasuruan masih menjadi sektor yang cukup menjanjikan, bahkan varietas benih padi Kalimasada yang ditemukan salah satu petani yang sudah diminati petani dari berbagai daerah di Indonesia tidak mendapatkan respon dari Pemerintah Daerah sendiri.

Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan yang saat menerima keluhan petani Dodi Suryanto bersama petani lainnya yang sudah 20 tahun mengagasnya tidak pernah dilirik oleh Pemerintah Daerah.

“Sepertinya selama ini memang kurang ada perhatian dari pemerintah daerah dalam melirik potensi lokal, sehingga di Pasuruan sendiri tidak banyak yang menerapkan,” kata Dodi.

Dodi menambahkan benih padi Kalimasada yang sudah 20 tahun terakhir, sudah banyak dipakai di beberapa daerah, Bahkan sampai di luar Jawa seperti Sulawesi, Kalimantan dan Gorontalo.

“Selama ini luar Jawa yang pakai benih padi Kalimasada ini, terbukti kuat terhadap serangan hama yang selama ini ditakuti petani,” terangnya.

Karena itu ia berharap melalui lembaga legislatif bisa mendorong pemerintah daerah memberikan kesempatan pada pengembang benih itu, dirinya menjanjikan selain kuat terhadap hama, juga meningkatkan hasil panen mencapai 40 persen per hektarnya.

“Sekali panen padi yang dihasilkan bisa mencapai lebih dari 10 ton per hektar, hasil panen mencapai 30 hingga 40 persen lebih banyak,” ucapnya.

Varietas benih padi Kalimasada itu sendiri merupakan hasil kawin silang antara galur lokal berasal dari Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi dengan benih padi asal China.

Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan Agus Setiya Wardhana berharap dinas terkait memfasilitasi pengembang benih itu agar memiliki legalitas. Jangan sampai produk yang tidak memiliki legalitas akhirnya diklaim orang lain sehingga merugikan salah satu pihak.

“Apalagi ini berkaitan dengan ketahanan pangan yang menjadi prioritas program Presiden Prabowo. Maka perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah daerah untuk keberlangsungan Lumbung pangan kita,” kata Wardhana.(*/red)