MOJOKERTO, MeRI.CO.ID – SEDIKITNYA ratusan hektar tanaman padi di tujuh kecamatan terendam banjir yang berakibat pada tanaman padi mengalami puso atau gagal panen di Kabupaten Mojokerto akibat tingginya curah hujan beberapa hari terakhir.
Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Mojokerto, Nurul Istiqomah membenarkan ratusan hektare area persawahan produktif mengalami gagal panen akibat terdampak banjir.
“Lahan pertanian terdampak banjir ada di tujuh kecamatan yakni Mojosari, Mojoanyar, Bangsal, Ngoro, Pungging, Jatirejo dan Sooko,” ungkapnya, Sabtu (1/4/2023).
Masih kata Kadisperta, di Kecamatan Mojosari dan Mojoanyar ada seluas kurang lebih sekitar 59,5 hektar. Dengan rincian Kecamatan Mojosari seluras 39 hektar dan Mojoanyar 20,5 hektar. Jumlah tersebut belum termasuk lahan pertanian yang gagal panen di lima kecamatan lainnya.
Sementara itu, Sekretariat Daerah Kabupaten (Sekdakab) Mojokerto, Teguh Gunarko mengatakan, fokus utama pasca bencana adalah perbaikan infrastruktur jalan, jembatan, sumber daya air seperti tanggul dan pertanian. “Di sektor pertanian, padi yang puso karena tergenang banjir,” katanya.
Tanaman padi gagal panen menjadi fokus penanganan pasca bencana yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto. Sekdakab menjelaskan, para petani yang gagal panen akan mendapat bantuan berupa pupuk dan benih dari anggaran Batuan Tak Terduga (BTT) bencana.
“Dari Pemda alokasi bantuan pupuk untuk dan bantuan benih dari provinsi petani yang lahannya puso, kita sarankan penyaluran-nya nanti bersamaan,” pungkasnya.
Sebelumnya, Disperta Kabupaten Mojokerto telah mengajukan anggaran BTT bencana sekitar Rp225 juta untuk membantu petani yang lahannya gagal panen akibat banjir. Seperti yang diketahui, dalam masa tanggap darurat bencana Hidrometeorologi BPBD telah mengajukan BTT kurang lebih sekitar Rp170,8 juta. (*/red)
